BAB II RETENSIO PLASENTA



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.      Landasan Teori
1.         Retensio Plasenta
a.         Pengertian Retensio Plasenta
Retensio plasenta adalah keadaan di mana plasenta belum lahir dalam waktu 1 jam setelah bayi lahir. Diagnosis ditegakkan berdasarkan adanya plasenta tidak lahir spontan dan tidak yakin apakah plasenta lengkap (Walyani, 2015).
Retensio plasenta adalah tertahannya atau belum lahirnya plasenta hingga melebihi waktu 30 menit setelah bayi lahir (Pranoto, 2014).
Retensio plasenta adalah keadaan dimana plasenta belum lahir selama setengah jam setelah janin lahir (Maryunani, 2009).
b.        Faktor yang Memengaruhi Terjadinya Retensio Plasenta
Menurut Walyani (2015), menyatakan bahwa faktor yang memengaruhi terjadinya retensio plasenta antara lain:
1)        Kelainan dari uterus sendiri, yaitu anomali dari uterus atau serviks; kelemahan dan tidak efektifnya kontraksi uterus; kontraksi yang tetanik dari uterus; serta pembentukan constriction ring.
2)        Kelainan dari plasenta dan sifat perlekatan plasenta pada uterus.
3)        Kesalahan manajemen kala tiga persalinan, seperti manipulasi dari uterus yang tidak perlu sebelum terjadinya pelepasan dari plasenta menyebabkan kontraksi yang tidak rtimik; pemberian uterotonik yang tidak tepat waktu dapat menyebabkan serviks kontraksi dan menahan plasenta; serta pemberian anestesi terutama yang melemahkan kontraksi uterus.
c.         Penyebab Retensio Plasenta
Menurut Maryunani (2009), menyatakan bahwa penyebab retensio plasenta antara lain:
1)        Plasenta belum terlepas dari dinding rahim karena melekat dan tumbuh lebih dalam. Menurut tingkat perlekatannya:
a)         Bila plasenta belum lepas sama sekali, tidak akan terjadi perdarahan tetapi bila sebagian plasenta sudah lepas maka akan terjadi perdarahan. Ini merupakan indikasi untuk segera mengeluarkannya.
b)        Plasenta mungkin pula tidak keluar karena kandung kemih atau rektum penuh. Oleh karena itu keduanya harus dikosongkan.
c)         Melalui periksa dalam atau tarikan pada tali pusat dapat diketahui apakah plasenta sudah lepas atau belum, dan bila lebih dari 30 menit maka dapat dilakukan plasenta manual.
2)        Plasenta sudah terlepas dari dinding rahim, namun belum keluar karena atoni uteri atau adanya konstriksi pada bagian bawah rahim (akibat kesalahan penanganan kala 3) yang akan menghalangi plasenta keluar (plasenta inkarserata).
Menurut Sastrawinata (2012), menyatakan bahwa penyebab retensio plasenta antara lain:
1)        Fungsional:
a)         His kurang kuat (penyebab terpenting).
b)        Plasenta sukar terlepas karena tempatnya (insersi di sudut tuba); bentuknya (plasenta membranasea, plasenta anularis); dan ukurannya (plasenta yang sangat kecil).
Plasenta yang sukar lepas karena penyebab di atas disebut plasenta adhesiva.
2)        Patologi-anatomi:
a)         Plasenta akreta.
b)        Plasenta inkreta.
c)         Plasenta perkreta.
d.        Jenis Retensio Plasenta
Menurut Pranoto (2014), menyatakan bahwa jenis-jenis retensio plasenta adalah:
1)        Plasenta adhesiva, adalah implantasi yang kuat dari jonjot korion plasenta sehingga menyebabkan kegagalan mekanisme separasi fisiologis.
2)        Plasenta akreta adalah implantasi jonjot korion plasenta hingga memasuki sebagian lapisan miometrium.
3)        Plasenta inkreta adalah implantasi jonjot korion plasenta sehingga memasuki atau mencapai miometrium.
4)        Plasenta perkreta adalah implantasi jonjot korion plasenta yang menembus lapisan otot hingga mencapai lapisan serosa dinding uterus.
5)        Plasenta inkarserata adalah tertahannya plasenta dalam kavum uteri, disebabkan oleh kontraksi ostium uteri.
e.         Diagnosis Retensio Plasenta
Menurut Nugroho, T (2012), menyatakan bahwa tanda dan gejala yang selalu ada, antara lain:
1)        Plasenta belum lahir setelah 30 menit.
2)        Perdarahan segera.
3)        Kontraksi uterus baik.
Selain tanda dan gejala yang selalu ada, berikut tanda da gejala yang kadang-kadang ada, antara lain:
1)        Tali pusat putus akibat tarikan berlebihan.
2)        Inversio terus akibat tarikan.
3)        Perdarahan lanjutan.
f.         Penatalaksanaan Retensio Plasenta
Menurut Pranoto (2014), menyatakan bahwa penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada kasus retensio plasenta adalah:
1)        Jika plasenta terlihat dalam vagina, mintalah ibu untuk mengedan, jika dapat dirasakan plasenta dalam vagina, keluarkan plasenta tersebut.
2)        Pastikan kandung kemih sudah kosong. Jika perlu, lakukan kateterisasi kandung kemih.
3)        Jika plasenta belum keluar, berikan oxitosin 10 unit IM.
4)        Lakukan peregangan tali pusat terkendali.
5)        Jika belum berhasil, cobalah melakukan pengeluaran plasenta secara manual.
6)        Jika perdarahan terus berlangsung, lakukan uji apembekuan darah sederhana.
g.        Penanganan Retensio Plasenta
Menurut Walyani (2015), menyatakan bahwa penanganan retensio plasenta atau sebagian plasenta adalah:
1)        Resusitasi (pemberian oksigen 100%). Pemasangan IV-line dengan kateter yang berdiameter besar serta pemberian cairan kristaloid (sodium klorida isotonik atau larutan ringer laktat yang hangat, apabila menungkinkan). Monitor jantung, nadi, tekanan darah dan saturasi oksigen. Tranfusi darah apabila diperlukan yang dikonfirmasi dengan hasil pemeriksaan darah.
2)        Drips oksitosin (oxytocin drips) 20 IU dalam 500 ml larutan ringer laktat atau NaCL 0,9% (normal saline) sampai uterus berkontraksi.
3)        Plasenta coba dilahirkan dengan Brandt Andrews, jika berhasil lanjutkan dengan drips oksitosin untuk mempertahankan uterus.
4)        Jika plasenta tidak lepas dicoba dengan tindakan manual plasenta. Indikasi manual plasenta adalah: perdarahan pada kala tiga persalinan kurang lebih 400 cc, retensio plasenta setelah 30 menit anak lahir, setelah persalinan buatan yang sulit seperti forsep tinggi, versi ekstraksi, perforasi, dan dibutuhkan untuk eksplorasi jalan lahir, tali pusat putus.
5)        Jika tindakan manual plasenta tidak memungkinkan, jaringan dapat dikeluarkan dengan tang (cunam) abortus dilanjutkan kuret sisa plasenta. Pada umumnya pengeluaran sisa plasenta dilakukan dengan kuretase. Kuretase harus dilakukan di rumah sakit dengan hati-hati karena dinding rahim relatif tipis dibandingkan dengan kuretase pada abortus.
6)        Setelah selesai tindakan pengeluaran sisa plasenta, dilanjutkan dengan pemberian obat uterotonika melalui suntikan atau per oral.
7)        Pemberian antibiotika apabila ada tanda-tanda infeksi dan untuk pencegahan infeksi sekunder.
h.        Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pelepasan Plasenta
Menurut Pranoto (2014), menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi pelepasan plasenta antara lain:
1)        Kelainan dari uterus sendiri, yaitu anomali dari uterus atau serviks, kelemahan dan tidak efektifnya kontraksi uterus; kontraksi yang tetanik dari uterus; serta pembentukan constriction ring.
2)        Kelainan plasenta, misalnya plasenta letak rendah atau plasenta previa; implantasi di cornu; dan adanya plasenta akreta.
3)        Kesalahan manajemen kala tiga persalinan, seperti manipulasi uterus yang tidak perlu sebelum terjadinya pelepasan plasenta menyebabkan kontraksi yang tidak ritmik; pemberian uterotonik yang tidak tepat waktunya yang juga dapat menyebabkan serviks kontraksi dan menahan plasenta; serta pemberian anestesi terutama yang melemahkan kontraksi uterus.
i.          Terapi Retensio Plasenta
Terapi untuk retensio atau inkarserasi adalah 35 unit syntocinon (oksitosin) IV yang diikuti oleh usaha pengeluaran secara hati-hati dengan tekanan pada fundus. Jika plasenta tidak lahir, usahakan pengeluaran secara manual setelah 15 menit. Jika ada keraguan tentang lengkapnya plasenta, lakukan palpasi sekunder (Walyani, 2015).

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENYEBAB SUATU MAJALAH/ JURNAL TIDAK DITERBITKAN

MODEL JENDELA JOHARI

TINGKAT KEPUASAN PEMUSTAKA TERHADAP PELAYANAN PERPUSTAKAAN