Faktor Penyembuhan Luka Episiotomi
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
A.
Tinjauan Teori
1.
Episiotomi
a.
Pengertian Episiotomi
Episiotomi adalah suatu tindakan inisisi
pada perineum yang menyebabkan terpotongnya selaput lendir vagina, cincin selaput dara, jaringan pada seputum rektovaginal,
otot-otot dan fasia perineum dan kulit sebelah depan perineum (Wiknjosastro. H, 2010).
Episiotomi adalah insisi dari perineum
untuk memudahkan persalinan dan mencegah ruptur perineum totalis (Sulistyawati. A, 2010).
Episiotomi adalah tindakan pengguntingan antara vagina dan
perineum untuk memperbesar jalan lahir (Indivara, 2009).
Dari berbagai pengertian di atas maka dapat diambil kesimpulan Episiotomi adalah prosedur bedah minor dimana kulit dan otot-otot yang
mendasari daerah perineum antara vagina dan rectum dipotong pada saat kala 2 (kepala crowning) untuk membantu dalam
proses melahirkan dengan memperbesar pembukaan jalan lahir dan memungkinkan
bayi untuk melalui vagina dengan lebih mudah.
b.
Indikasi dan Kontraindikasi Episiotomi
Indikasi yang menyebabkan dilakukan episiotomi dapat timbul dari pihak ibu maupun janin (Sulistyawati. A, 2010).
1)
Indikasi janin
a)
Sewaktu melahirkan janin premature, tujuannya adalah untuk mencegah terjadinya trauma yang berlebihan
pada daerah kepala janin.
b)
Sewaktu melahirkan janin letak sungsang, melahirkan janin dengan
cunam, ekstraksi vakum dan janin besar.
c)
Pada keadaan di mana ada indikasi untuk mempersingkat kala II seperti pada gawat
janin, tali pusat menumbung.
2)
Indikasi ibu
Episiotomi pada primigravida, kejadian
antara 0 sampai 95%
sedangkan pada multigravida lebih kecil karena jaringan perineum sudah semakin
elastis dalam beberapa kasus perlu ditetapkan indikasi untuk melakukan episiotomi sebagai berikut:
a)
Hampir pada semua primigravida inpartu jika ditemui crowning kepala
tidak seimbang dengan elastisitas perineum.
b)
Pada distosia yang disebabkan kurangnya elastisitas perineum (Manuaba,
2007).
c)
Terjadi peregangan perineum yang berlebihan misalnya pada persalinan
sungsang, persalinan dengan cunam, ekstraksi vakum dan anak besar.
d)
Arkus pubis yang sempit.
e)
Adanya ruptur yang
membakat pada perineum (Sulistyawati. A, 2010).
Kontraindikasi episiotomi antara lain adalah:
1)
Bila persalinan tidak
berlangsung secara pervaginam.
2)
Bila terdapat kondisi
untuk terjadinya perdarahan yang banyak seperti penyakit kelainan darah maupun
terdapatnya varises yang luas pada vulva dan vagina (Sulistyawati. A, 2010).
c.
Tujuan Melakukan Tindakan Episiotomi
1)
Mempercepat persalinan
dengan memperlebar jalan lahir lunak.
2)
Mengendalikan robekan
perineum untuk memudahkan menjahit.
3)
Menghindarkan robekan
perineum spontan.
4)
Memperlebar jalan lahir
pada tindakan persalinan pervaginam.
5)
Memudahkan untuk
menjahit kembali.
6)
Untuk memberikan ruangan yang adekuat untuk proses persalinan dengan bantuan (Sulistyawati. A, 2010).
d.
Perawatan Luka Episiotomi
1)
Perawatan Pada Luka Episiotomi Tanpa Komplikasi
a)
Siram mulut vagina hingga bersih dengan air setiap kali habis BAK dan BAB.
Air yang digunakan tak perlu matang asalkan bersih. Basuh dari arah depan ke
belakang hingga tidak ada sisa sisa kotoran yang menempel di sekitar vagina
baik itu dari air seni maupun feses yang mengandung kuman dan bisa menimbulkan
infeksi pada luka jahitan.
b)
Vagina boleh dicuci dengan menggunakan sabun maupun cairan antiseptik
karena dapat berfungsi sebagai pelindung kuman. Yang terpenting jangan takut
memegang daerah tersebut dengan saksama.
c)
Jika ibu benar benar takut menyentuh luka jahitan, upaya menjaga kebersihan
vagina dapat dilakukan dengan cara duduk berendam dalam cairan antiseptik
selama 10 menit. Lakukan setelah BAB atau BAK.
d)
Setelah vagina dibersihkan maka segera ganti pembalut agar vagina tidak
lembab dan kotor. Minimal 3 jam sekali atau merasa sudah tidak nyaman.
e)
Setelah dibasuh keringkan perineum dengan handuk lembut, lalu kenakan
pembalut baru.
f)
Setelah semua langkah dilakukan perineum dapat diolesi dengan antibiotik
yang telah diresepkan oleh dokter (Anggraini. Y, 2010).
2)
Perawatan Luka Episiotomi dengan Komplikasi
Pada sebagian wanita yang nyata menderita selulitis tetapi tanpa
pembentukan pus, terapi mikroba sprektum luas disertai pengawasan ketat sudah
memadai. Sebagian lain jahitan di angkat dan luka yang terinfeksi dibuka. Luka
bedah harus dibersihkan dengan benar dan bebas dari infeksi. Jika luka telah ditutupi
oleh jaringan granulasi merah muda (biasanya memerlukan waktu 5 sampai 7 hari),
dapat dilakukan perbaikan sekunder lapis demi lapis. Perawatan pasca operasi
mencakup perawatan luka, diet rendah sisa, pelunak feses, dan tidak memasukkan
apa apa ke dalam vagina atau rektum sampai luka sembuh (Levenno, 2009).
e.
Tips Perawatan Vagina Pasca Persalinan dengan Episiotomi
Bagi ibu yang melahirkan dan mengalami
episiotomi, perawatan vagina pasca
melahirkan dapat dilakukan dengan cara:
1)
Untuk mengurangi rasa sakit atau menenangkan luka, ibu dapat menggunakan
kompres pada luka jahitan. Ibu bisa menggunakan es yang dibungkus kain bersih
dan menempelkan pada bekas jahitan.
2)
Ibu harus selalu memastikan bahwa luka bekas jahitan selalu bersih.
Membersihkan luka ini bisa dilakukan dengan menggunakan botol semprot yang
berisi air untuk membersihkan area perineum setelah ibu buang air kecil atau
besar. Selain itu, untuk membersihkan bekas jahitan ibu juga bisa menggunakan
waslap yang dibasahi dengan sabun. Buatlah busa di waslap tersebut. bersihkan
seluruh luka dengan waslap tersebut, pastikan daerah bekas jahitan benar-benar
bersih.
3)
Siramlah dengan air dingin vagina saat ibu sedang buang air kecil. Kemudian
lakukan cebok dari arah depan ke belakang dengan air bersih (jangan sebaliknya,
karena jika terbalik cara ceboknya, justru akan mengumpulkan bakteri dari anus
ke vagina), dan lakukan dengan hati-hati atau menggunakan botol semprot yang
berisi air tadi.
4)
Saat buang air besar, kemungkinan akan terasa sakit pada area bekas
jahitan. Gunakan bantalan lembut dan bersih pada luka bekas jahitan, dan tekan
ke bagian atas pada bekas luka untuk menghindarkan tekanan atau menghindari
robek kembali.
5)
Hindari aktivitas berlebih saat minggu-minggu pertama pasca melahirkan.
Saat duduk lakukan dengan hati-hati, kalau bisa usahakan mencari bantalan duduk
berbentuk donat untuk menghindari
tekanan pada daerah bekas luka. Perbanyaklah konsumsi makanan yang banyak
mengandung serat seperti sayuran dan buah-buahan. Dengan demikian diharapkan,
tinja yang dikeluarkan saat BAB tidak terasa keras dan hal ini menghindarkan
sakit berlebih saat BAB.
6)
Lakukan latihan senam kegel untuk mengencangkan bagian sekitar panggul.
Lakukan senam kegel ini beberapa hari pasca melahirkn. Seringlah ibu melakukan
pergantian celana dalam dan usahakan menggunakan bahan yang mampu menyerap
keringat. Ibu bisa menggunakan panty liner untuk membantu vagina agar terhindar
dari kelembaban yang berlebih. Selain itu, mencukur rambut vagina juga dapat
membantu mengurangi kelembaban.
7)
Luka jahitan dapat diolesi dengan menggunakan salep antibiotik, tapi harus
sesuai dengan anjuran dokter (www.bidanku.com, 2012).
f.
Faktor Penyembuhan Luka
Menurut (Irma P.A, 2014) menyatakan bahwa pada umumnya luka dapat
sembuh dengan sendirinya. Luka akan mengalami kegagalan penyembuhan jika ada
faktor yang menghambat sehingga luka yang awalnya biasa menjadi luar biasa
sulit untuk sembuh. Ada beberapa faktor yang sangat berperan dalam mendukung
penyembuhan luka, yaitu:
1)
Faktor Lokal
a.
Hidrasi luka
Hidrasi luka atau pengairan pada luka adalah kondisi kelembaban pada
luka yang seimbang yang sangat mendukung penyembuhan luka. Luka yang terlalu
kering atau terlalu basah kurang mendukung penyembuhan luka.
b.
Penatalaksanaan luka
Penatalaksanaan luka yang tidak tepat menghambat penyembuhan luka.
Kebersihan luka dan sekitar luka harus diperhatikan, kumpulan lemak dan kotoran
pada sekitar luka harus selal dibersihkan. Saat pencucian luka, pilih cairan
pencuci yang tidak korosif terhadap jaringan gramulasi yang sehat.
c.
Temperatur luka
Efek temperatur pada penyembuhan luka menunjukkan bahwa temperatur
yang stabil (37°C) dapat meningkatkan proses mitosis 108% pada
luka. Oleh sebab itu, dianjurkan untuk meminimalkan penggantian balutan dan
mencuci luka dengan kondisi hangat.
d.
Adanya tekanan dan gesekan
Tekanan dan gesekan penting diperhatikan untuk mencegah terjadinya hipoksia
jaringan yang mengakibatkan kematian jaringan.
e.
Adanya benda asing
Benda asing pada luka dapat menghalangi proses granulasi dan
epilelisasi bahkan dapat menyebabkan infeksi. Benda asing pada luka di
antaranya adalah sisa proses debris pada luka, sisa jahitan, kotoran, rambut,
sisa kasa, kapas yang tertinggal dan adanya bakteri.
2)
Faktor Umum
a.
Faktor usia
Pada usia lanjut terjadi penurunan fungsi tubuh sehingga dapat
memperlambat waktu penyembuhan luka.
b.
Penyakit penyerta
Penyakit penyerta yang sering mempengaruhi penyembuhan luka adalah
penyakit diabetes, jantung, ginjal dan gangguan pembuluh darah (penyempitan
atau penyumbatan pada pembuluh darah arteri dan vena).
c.
Vaskularisasi
Vaskularisasi yang baik dapat menghantarkan oksigen dan nutrisi ke
bagian sel terujung. Pembuluh darah arteri yang terhambat dapat menurunkan
asupan nutrisi dan oksigen ke sel untuk mendukung penyembuhan luka sehingga
luka cenderung nekrosis.
d.
Nutrisi
Nutrisi yang buruk akan menghambat proses penyembuhan bahkan menyebabkan
infeksi luka. Nutrisi yang dibutuhkan dan penting adalah asam amino (protein),
lemak, energi sel (karbohidrat), vitamin, (C, A, B kompleks, D, K, E), zink, trace element (besi, magnesium), dan
air.
e.
Kegemukan
Obesitas atau kegemukan dapat menghambat penyembuhan luka, terutama
luka dengan tipe penyembuhan primer (dengan jahitan) karena lemak tidak
memiliki banyak pembuluh darah. Lemak yang berlebih dapat mempengaruhi aliran
darah ke sel.
f.
Gangguan sensasi dan pergerakan
Gangguan sensasi dapat memperburuk kondisi luka karena tidak ada rasa
sakit atau terganggu terhadap luka tersebut, begitu juga gangguan pergerakan
dapat menghambat aliran darah dari ke perifer. Sering sekali pemilik luka tidak
menyadari bahwa lukanya memburuk.
g.
Status psikologis
Stress, cemas, dan depresi menurunkan efisiensi kerja sistem imun
tubuh sehingga penyembuhan luka terhambat.
h.
Terapi radiasi
Terapi radiasi tidak hanya merusak sel kanker, tetapi juga merusak
sel-sel di sekitarnya. Komplikasi yang sering muncul adalah penurunan asupan
nutrisi karena mual dan muntah dan kerusakan/efek lokal (kulit rentan,
kemerahan, dan panas) pada daerah sekitar luka.
i.
Obat
Obat-obatan yang menghambat penyembuhan luka adalah monsteroidal anti-inflammatory drug/NSAID
(menghambat sintesis prostaglandin), obat sitotoksik (merusak sel yang sehat),
kortikosteroid (menekan produksi makrofag, kolagen, menghambat angiogenesis dan
epitelisasi), imunosupresan (menurunkan kinerja sel darah putih), dan
penisilin/penisilamin (menghambat kolagen untuk berikatan/resistensi bakteri
pada luka).
Komentar
Posting Komentar